Sebuah Ruang Istimewa


Google.com

SEPULUH BULAN BERJALAN, SEORANG LELAKI TERUS MENANTI ISTRINYA YANG AKAN MEMBERINYA KETURUNAN.

“Apa ada masalah dengan kandunganmu, dik?” tanyanya kepada istrinya. “Sebaiknya besok kau ke rumah sakit untuk periksa calon anak kita. Mungkin saja kau salah menghitung bulan kehamilanmu,” lanjut lelaki itu dengan perasaan cemas.
 Wanita itu hanya diam karena menganggap suaminya itu sangat berlebihan. Hal itu terjadi karena janin yang ada dalam kandungan istrinya adalah impian yang ia tungu-tunggu selama lima tahun pernikahan mereka. Wanita itu malah sibuk menyelesaikan rajutannya yang hampir jadi. Ia sudah menyimpan hasil rajutan sepatu bayi yang ketiga belas dalam keranjang baju di atas buffet ruang tidurnya. Hari-harinya diisi dengan membuat sepatu rajut yang ia pelajari dari youtube.
“Kenapa kau tidak khawatir sama sekali dengan kandunganmu, dik?” suaranya kali ini agak tinggi sambil meraih remote control TV dan menekan tombol off. Mendadak sunyi dan mungkin itu lebih baik karena berita di televisi sekarang banyak membuat hati pemirsanya cemas. Sudah tak ada hiburan di sana. Yang ada hanya berita perselingkuhan yang diakhiri dengan pembunuhan, berita seorang anak yang depresi dan bunuh diri karena gagal masuk perguruan tinggi negeri, berita bom yang mengatasnamakan jihat, atau berita korupsi yang tak pernah ada hukum mampu menjerat karena pelakunya para penguasa.
“Iya, kang. Aku besok akan ke rumah sakit. Tapi jangan ngomel terus. Sekarang kita tidur saja dulu.” Jawab wanita itu sambil susah payah berdiri dari kursi karena perutnya yang sudah sangat besar. Ia mematikan lampu di beberapa ruangan dan menuju kamar. 
***
Malam makin menggantung semua pertanyaan yang ada dalam benak lelaki separuh baya itu. Sudah dua minggu ini matanya susah sekali terpejam dengan tenang. Hanya hitungan menit ia bisa lelap dan selebihnya ia terjaga lagi. Ia berusaha mengingat apa yang membuatnya seperti ini. Ia menghitung situasi seperti ini dialami beberapa kali dalam hidupnya. Awal sekali ketika ia akan meminang Sumi – perempuan yang saat ini akan memberi keturunan padanya. Enam tahun lalu, tepatnya ketika mereka sama-sama merantau dan kuliah di perguruan tinggi yang sama. Sumi satu tingkat di bawahnya dan ia benar-benar ingin meminangnya.
“Aku sudah kehilangan ibu sejak aku kecil. Aku tak mau lagi merasakan kehilangan. Apakah kelak ketika kau bosan denganku juga akan meninggalkan aku sendirian?” tanya Sumi padanya. Ia memeluk – erat dan berjanji tidak akan meninggalkan sampai kapanpun. Satu minggu menjelang pernikahan, ia diserang insomnia. Gelar Sarjana yang ia dapat belum juga membawa dirinya pada kemapanan hidup, tapi ia sudah berjanji akan menikahi Sumi. Ia membayangkan bagaimana bentuk pernikahan yang akan ia jalani dengan Sumi. Apakah ia mampu memberi kebahagiaan Sumi secara finansial, sedangkan terkadang perutnya sendiripun masih sering ia hibur dan ia bohongi. Apakah ia benar-benar cinta dengan Sumi? Apakah ia akan bisa setia pada Sumi? Pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu itu akhirnya lewat juga setelah melewati resepsi pernikahan yang sederhana. Sangat sederhana dan beruntung Sumi adalah wanita yang tak pernah menuntut apapun darinya.
Tahun pertama, kedua semuanya masih sangat indah. Apakah ada yang lebih membahagiakan memiliki istri yang ikhlas dengan hari-hari tak tentu. Pekerjaannya sebagai penulis lepas membuat ia tak pernah menjanjikan hal yang berlebihan pada Sumi.
“Dik, kita harus berhemat. Honorku dari perusahaan yang memakai jasaku belum juga masuk ke rekening,” ucapnya ketika ia harus menahan keinginan istrinya untuk mengirim uang pada adiknya di kampung. “Belum juga kontrakan kita yang tinggal tiga bulan lagi sudah habis dibayar lagi.” Sumi hanya senyum, entah senyum ihklas, getir, atau senyum pasrah dengan keadaan. Yang pasti Sumi selalu setia menemaninya selama dua tahun ini dengan keadaan yang serba sederhana. Cinta Sumi padanya benar-benar teruji.
Tahun-tahun berikutnya adalah tahun yang sangat sepi. Rumah kontrakan berukuran enam puluh meter persegi itu masih saja sepi. Tak ada suara tangisan bayi yang haus minta tetek ibunya atau suara kaki-kaki bocah kecil yang berisik berlarian keluar dalam rumah. Hanya ada suara tombol-tombol huruf pada laptop yang membentuk irama indah serupa musik klasik yang sangat ia suka. Itupun terdengar ketika malam telah datang, ketika semua penghuni bumi sedang melepaskan harapan mereka pada mimpi, meninggalkan sebagian beban mereka pada langit gelap. Ini adalah kali kedua ia dihampiri insomnia berminggu-minggu.
Setiap kali malam datang, ia mengurung diri di ruang kerja. Pikirannya keliaran entah kemana. Sumi sudah tak ada dalam prioritas pertama lagi baginya. Yang ada hanya usaha untuk  melenyapkan kesunyian yang makin hari makin sempurna. Satu malam yang tak pernah  terduga, ia mendapat kabar dari seseorang yang kabarnya lama tak ia dengar.
“Aku sedang ada di kotamu,” pesan itu membuat ia terbelalak.
“Ning? Kamukah ini?” gumamnya sambil mengamati foto yang muncul di layar handphonenya. Tak perlu berpikir lama ia membalas pesan itu dan mereka membuat janji untuk saling bertemu.
***
“Kau makin tampak matang saja, De?” suara itu membuatnya gemetar. Tapi ia berhasil mengendalikan keadaan. Beberapa batang rokok membuat napasnya sedikit mudah diatur. Ia tak berani menatap wanita yang ada di depannya.
“Kau dinas ke kota ini dengan keluargamu?” tanyanya berusaha memperlihatkan kewajaran. Namun wanita di depannya menggelengkan kepala berkali-kali seperti berusaha melakukan penolakan atas pertanyaan itu.
Ning adalah wanita yang lembut, tak sekuat dan setegar istrinya yang saat ini sedang mempertahankan kesetiaannya meski beberapa kali ia merasa menjadi wanita yang tak berguna. Wanita yang tak mampu memberi keturunan hanyalah wanita yang layak untuk menyerahkan nasib pada sebuah perselingkuhan atau poligami. Kali ini ia masih melihat Ning yang sama dengan beberapa tahun lalu. Wajah manis yang murung dan tak pernah ada yang tahu apa penyebabnya.
“Berapa lama kau akan singgah di sini?”
“Mungkin tiga hari. Apa kamu mau menemani aku?” balasnya dengan tatapan memohon.
“Entahlah, banyak sekali  pekerjaan yang harus aku selesaikan dalam minggu ini.”
Hari makin larut dan mereka masih saja sibuk dengan pikiran masing-masing. Sesaat ia melupakan apa saja yang membuat otaknya lelah. Ia biarkan malam itu mengalir apa adanya seperti mendung yang bergeser pelan – sangat pelan dan aroma tanah basah karena hujan menguar. Matanya memejam, sengaja membiarkan hidungnya menghirup dingin yang dikirim semesta lewat sekujur tubuh wanita yang ada di depannya.
Mereka terbawa suasana, berusaha saling melupakan apa saja yang ingin melintas dalam pikiran. Tak ada suara tombol-tombol laptop yang membentuk irama musik klasik, tak ada suara Sumi yang merajuk dan memohon agar tak ditinggalkan hanya karena belum bisa memberi keturunan. Malam ini ia menjelma kucing jantan yang mengendus-endus, menjilati tubuh seekor kucing betina. Mereka berdua menggelepar, merintih, mengerang, mendesah, kemudian terdengar napas yang terengah-engah – panjang tak tertahan dengan kedua tangan yang mencengkeram.  Mereka lupa beberapa kesedihan yang mereka bawa sampai matahari menembus kelambu dalam kamar.
***
“Aku harus pulang, Ning.” Ia mengenakan pakaiannya secepat ia melupakan adegan semalam. Apa yang bisa dilakukan wanita lemah yang hanya bisa menjadi pemuas dan melipur laki-laki yang sedang butuh dimanja? Diam, wajah Ning tertunduk dan ia tak mampu menangis karena ia sudah lelah menangis.
Ning hanya menulis surat dan berharap De membacanya ketika pesawat sudah membawanya pergi meninggalkan.
De, terima kasih kamu sudah membuat aku merasa kecewa kedua kalinya. Dulu aku masih berusaha menerima ketika kau meninggalkan aku di kampung dan memutuskan merantau untuk belajar dan kau berjanji suatu saat akan kembali. Dan kau meninggalkan aku. Dan saat ini, entahlah, De. Apakah aku masih bisa memaafkan kamu dengan apa yang kau perbuat padaku. Seharusnya kau menjagaku, De. Dan bukan memanfaatkan aku. Maaf, kalau kali ini aku tak bisa membuat kamu tenang dalam hidupmu. Aku akan memutuskan untuk tinggal – dekat denganmu.
Perasaan dosa menghantuinya. Tapi ia meyakini apa yang dilakukannya bersama Ning adalah hal wajar yang dilakukan dua manusia dewasa dengan penuh kesadaran. Seharusnya Ning tak perlu marah denganku, gumamnya dalam hati berusaha melakukan pembenaran pada apa yang terjadi. Waktu membantunya melewati, melupakan apa yang terjadi. Sebuah pengkhianatan.
***
Tak ada mendung pagi ini. Hanya ada kabar gembira yang dibawa Sumi untuknya. Wanita itu tergopoh-gopoh menemuinya di teras sambil mata yang berkaca-kaca.
“Aku hamil, bang. Kita akan punya anak.”
Ia terperangah dan tangis mereka meledak bersama, saling memeluk dan mengucap syukur. Ia berpikir bahwa tak akan ada lagi rasa sepi dalam hidupnya. Ia membayangkan betapa sebentar lagi hidupnya akan sempurna. Menikah dan memiliki keturunan adalah salah satu kesempurnaan hidup.
Namun ia salah, karena pada kenyataannya tak pernah ada kesempurnaan dalam hidup. Sama halnya kecemasan yang muncul ketika sepuluh bulan menanti suara tangis bayi dari rahim istrinya. Kecemasan yang sekali lagi mendatangkan insomnia dalam hidupnya berminggu-minggu lamanya.
“Istri bapak mengalami hamil anggur dan terpaksa kami akan melakukan tindakan pada rahimnya.” Ia merasa tidak mendengarkan penjelasan dari seorang dokter tentang apa yang dialami Sumi, melainkan ia sedang ditampar oleh nasib dan pada akhirnya ia menyerah dan bibirnya kelu ketika membaca sebuah pesan dari seseorang:
Terima kasih, De. Kau dan istrimu begitu memanjakan aku. Sepuluh bulan waktu yang sangat cukup membuat aku bahagia karena begitu dekat denganmu. Sangat dekat sampai kau tak pernah menyadarinya. (*)
  

0 comments:

Posting Komentar