Kunanti di Kampar Kiri



Di Balik Gunung Sahilan

“menunggu sebuah nama pulang”

matahari tenggelam di balik gunung sahilan
malam mulai bersenandung
arak-arakan burung mencari induknya
di antara gelap dan sunyi

lelaki itu terpejam bersama pikiran
pikiran liar mengembara pada
bukit rimbang baling dengan
sepasang rusa menari di bawah cahaya langit

aroma dingin dari pohon-pohon basah
membawanya menyusuri sungai
kampar kiri dengan piyau yang dirakit oleh
tangan para nelayan
airnya begitu jernih dan tenang
dengan ikan-ikan kecil yang selalu terjaga

lelaki itu melihat bayangan sebuah wajah
di dasar sungai sangat dalam
seperti puluhan tahun silam ia
memanggil-manggil sebuah nama

sebuah nama yang menghilang
:dan ia menunggunya pulang

nama yang terkubur sepanjang
sijunjung - singingi


Lubuk Larangan

Sampaikan padaku tentang sebuah keresahan

ketika kemarau datang
sepanjang kampar kiri,
angin menerbangkan suara
celempong dan gendang gong

seekor ikan geso menangis,
‘aku akan merindukan kekasihku.’

ia merayakan kesedihan; melepas kenangan
pada jaring yang melingkari nasibnya

seekor ikan lain berkata:
‘aku akan membangun istana serupa gunung sahilan.’

ia menjemput bahagia; sembunyi
di balik rimbang baling tanpa kekasihnya

lalu mereka setia menunggu penghujan  

pada tempat yang berbeda


Masa Kecil di Kampar Kiri

di atas batu ia melukis raut wajah
kemudian ia menarik tubuhku
masuk pada kedalaman lukisan yang belum ia selesaikan
hanya serupa sketsa,
                                              
aku melihat air tertahan pada sudut matanya

ia rindu pulang – rindu,
pada kesunyian rimbang baling;
air jernih yang mengalir sepanjang kampar kiri;
dan dingin gunung sahilan dini hari,

aku melihat air tertahan pada sudut matanya

lalu kami menyusuri sebuah desa  
pohon rindang dan gemercik air terdengar
ia mengeja sebuah nama di masa kecil
nama yang tiba-tiba menghilang, 
bersama raut wajah dalam lukisan

aku melihat air tumpah pada kedua matanya



0 comments:

Posting Komentar