April




April

/1/
april dengan musimnya
sepasang burung menari
berputar di atas sawah
memanen mimpi mimpi petani

kicaunya yang riang
samar terdengar, serupa nyanyian
dari surga

suaranya memantul pada
dingin dinding lembah
menjauh lalu menghilang
serupa angin yang merebahkan tubuh sunyi
di bawah langit telanjang

/2/
aku berjalan menuju timur – pantura
melewati hutan rimbun
pohon pohon rahasia
gubuk mungil dengan cahaya redup
menemui suara suara sunyi

:suara yang diciptakan
dari wajah diam perempuan

langkahku terhenti di bibir pantai
ketika laut mengirim buihnya pada sepasang kaki

aku sendiri – bebas!
dalam malam gaib pulau merah
memandang bintang,
ombak, dan tipak di atas karang

/3/
april dengan musimnya
membawa perjalanan pada legenda
dua ratus empat puluh tujuh tahun silam

bersama april
aku meninggalkan cemas
di sebalik letupan kawah
pada sebuah dusun yang damai


Pagi di Bulan April

debu yang diterbangkan angin, pada sisa-sisa april 
dengan tangan pucat oleh dingin dini hari, ia menulis sebuah fragmen:
pelukan hangat, mata berair, dan senyum yang sembunyi antara ribuan wajah
nampak di atas bukit, kota-kota kecil begitu tak berjarak dengan sekumpulan
awan senyap – tak terlihat keramaian di sana. hanya lampu-lampu yang
berdialog dengan langit – semesta

kaki-kaki kuat lalu lalang, melintas di setapak berkerikil dan penuh pasir
mereka meraba nasib hari ini lewat roda-roda yang ditariknya
menyimpan wajah wanita dan bocah kecil di napasnya
yang sebentar datang sebentar hilang

ia memejamkan mata membiarkan angin menerbangkan tubuhnya
serupa kapas ia melayang-layang, ringan tak ada beban
ia tak menyoal takdir membawanya

terbang ke angkasa, tenggelam di dasar laut, tersesat di rimbunan pohon, atau bahkan jatuh ke jurang curam

sampai pada ia terbangun karena sebuah uluran tangan


Apa Kau Masih Menunggu April?

/1/
kaki kita melangkah – serasi
pada sebuah tanjakan juga turunan
aku di kiri dan engkau di kanan
kau tak ingin menjauh, tak juga meninggalkan
sesekali jalanan licin mencuri kebersamaan
betapa menyakitkan untuk bahagia

/2/
lalu ia bercermin dan berucap
apa aku bisa menemuinya serupa hari ini?
ya, bisa: suara dalam cermin memantul
pada dinding, langit-langit kamar

lalu tangan mereka menyatu
bergandengan
menggenggam
erat
kemudian berjarak

tak boleh sedih sebab mereka yakin
setiap yang ada akan tiada
dan mereka akan bersama dalam ketiadaan






L Margi, lahir dan besar di Surabaya. Mahasiswa Pascasarjana Prodi Dikdas di Universitas Negeri Surabaya.


0 comments:

Posting Komentar