Minggu, 24 Desember 2017

Dongeng Sebelum Malam Pertama

Share & Comment

“Kau ini gila atau sinting? Selesaikan dongengmu malam ini juga dan kau rasakan bagaimana rasanya bercinta.
“Tapi aku takut.”
“Takut apa?”
Percakapan Alamanda dengan Mei pada cerpen Dongen Sebelum Bercinta adalah bukti bahwa


“Sekuat dan sehebat apapun manusia, pasti akan memberi ruang sembunyi untuk rasa takut dalam diri mereka.”


Sungguh, saya dibuat geli dengan cerpen ini. Lama sekali saya tahu bahwa buku-buku Eka kurniawan adalah buku yang bergizi layaknya makanan sehat yang harus saya konsumsi setiap hari. Tetapi entah, sejak saya banyak membeli, membaca, dan mengoleksi buku cerpen dan puisi dari beberapa penulis di perpustakaan pribadi saya hanya terpajang satu buku “Perempuan Patah hati yang kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi.” Dan masih terbaca beberapa cerpennya.

Selepas berlama-lama di perpustakaan kampus sekedar melihat beberapa contoh tesis, rasanya pusing juga. Lirik ke kanan meja sebelah terlihat buku Eka Kurnawan “Corat Coret di Toilet”. Sepertinya si pemilik buku sedang sibuk mengetik bab-bab dari tesisnya. Saya meminjamnya dan seperti biasa, langsung lari ke daftar isi. Tiba-tiba saja pikiran nakal saya mulai muncul. Cerpen kedua dalam buku itu judulnya “Dongeng Sebelum Bercinta”. Meluncurlah saya ke halaman 11 dan ketika membaca beberapa paragraf, saya mengalami beberapa fase. Hahaha. Fase mulai dari senyum - menahan tawa - sampai tertawa terbahak – dan kemudian dibuat lemas oleh ending tentang kisah malam pertama Alamanda dan suaminya. Semestinya cerpen 11 halaman ini mampu membuat saya merenung. Dalam…sedalam dalamnya. Sampai pada kedalaman yang paling dalam.

Kenapa saya mengikat makna cerpen ini?
Pertama, cerpen ini mengajak saya menyadari bahwa ketakutan-ketakutan itu semacam monster yang selalu muncul. Jadi, saya atau siapapun tak mungkin bisa menghindar. Perbedaannya hanya pada bagaimana manusia itu menerima, menyapa, dan mengajak berdialog ketakutan dalam diri mereka. Pemberontakan Alamanda dalam hal perjodohan tanpa cinta yang tak mampu ia lakukan secara terang-terangan meski ia mengabaikan juga beberapa norma yang ada. Terlebih ketika ia mempunyai hubungan istimewa dengan lelaki romantik dan cerdas yang sama-sama mempunyai jiwa pemberontak. Laki-laki dari keluarga berada yang  meninggalkan segala kemewahan demi sebuah kebebasan. Bedanya, dalam pemberontakan alamanda, ia masih mengedepankan rasa takut. Takut miskin, takut dengan sanksi sosial yang pasti dihadiahkan oleh keluarganya jika ia menolak perjodohan dengan sepupunya. Pada akhirnya cintapun terkalahkan dengan ketakutan-ketakutan. Bahkan ketka ia sudah memutuskan menyerah dengan sekitar, ia juga masih saja menutupi ketakutan dalam dirinya. Ia membuat kesepakatan bercinta di malam pertama setelah ia selesai mendongengkan sebuah cerita. Hal itu semata ia tak ingin suaminya mengetahui bahwa ia sudah tidak perawan lagi.

Kedua, Saya merasa cerpen ini disampaikan dengan begitu santai bahkan saya menemukan beberapa percakapan yang sempat membuat saya berpikir bahwa Alamanda adalah tokoh yang sangat nekat dan sedikit iseng. Salah satunya saya dapatkan percakapan ketika calon suaminya menyampaikan bahwa ia sudah menemui ayah Alamanda untuk meminangnya.
“Sayang, aku sudah melamar kepada ayahmu.”
“Begitu?” Alamanda berkata acuh tak acuh.
“Kapan kau akan menikah dengan ayahku?”
Betapa terbahaknya saya membaca percakapan ini, membayangkan seandainya saja saya yang mengatakan itu.

Ada juga permintaan nekat Alamanda pada kekasih pengecutnya, agar ayahnya membebaskan ia dari perjodohan tanpa cinta.
“Sayang, perkosalah aku!” Alhasil sang kekasih hanya diam mematung.

Dan yang paling konyol ketika saya membaca pada malam suami Alamanda ngompol dalam tidurnya karena sudah lebih dari satu bulan pernikahan mereka tanpa ada malam pertama; tanpa bercinta.
“Nah, kan!” Tiba-tiba suara suaminya membuyarkan semua lamunannya
            “Kenapa?” Tanya Alamanda.
            “Aku ngompol.” Jawab si suami.
            “Sebesar ini kau ngompol?”
            “Bukan ngompol anak-anak, sayang.”

Hmmm….membaca cerpen ini cukup mengocak perut juga rasanya.
Tetapi pada prinsipnya, saya sangat paham bahwa menyambut dan menerima ketakutan-ketakutan dalam diri dengan keramahan tak semudah memesan milo panas pakai es di warung kopi sekitaran Yogyakarta.
Sungguh….sangat tak mudah. Satu-satunya cara adalah pelan-pelan saja, menyapanya dengan kerlingan mata
“Hei, ketakutan. Apakah kau bahagia menemui aku?”

Semoga Bahagia Selalu
Tags:

Written by

Jika anda merasa nyaman singgah di blog ini, kabarkan kepada siapapun mereka. Anda juga bisa meninggalkan jejak dengan menulis komentar di blog ini.

0 comments:

Posting Komentar

 
Copyright © All About My Dream | Designed by Templateism.com | Published by GooyaabiTemplates.com