Apa yang dirasakan selain penyesalan ketika amarah sudah menguasai kita?
Manusia memiliki berbagai macam tingkatan emosional.
View Post
Sumber: Google


Bulan Mei adalah bulan yang ditunggu-tunggu oleh seluruh penghuni hutan. Dua minggu lagi putra dari Raja Hutan genap berusia sembilan tahun. Raja Hutan selalu merayakan ulang tahun putranya dengan pesta yang mewah dan meriah. Selain merayakan pesta ulang tahun, Raja Hutan juga selalu menggelar lomba yang boleh diikuti oleh seluruh penghuni hutan. Tentu saja setiap tahunnya perlombaan itu berbeda jenisnya dan yang pasti hadiahnya sangat menarik.
Di pohon besar, tak jauh dari tempat tinggal Serangga, beberapa hewan sudah berkerumun untuk melihat pengumuman lomba yang akan digelar satu minggu lagi. Dua burung suruhan Raja Hutan terbang ke atas pohon dan memasang pamplet perlombaan. Tak berapa lama terpasang, salah satu dari burung tersebut berseru:
“Teman-temanku, persiapkan diri kalian untuk mengikuti lomba yang digelar oleh Raja Hutan tahun ini,” suara burung itu seperti menjadi penyemangat seluruh penghuni hutan. Para hewan berebut untuk mendekat dan ingin mengetahui lomba apa saja yang akan digelar pada tahun ini. Nampak Ular langsung melilitkan tubuhnya naik ke pohon di mana pampflet itu terpasang, Ia tak kalah antusias ingin ikut memeriahkan lomba.
“Hai Burung, bacakan apa saja lomba tahun ini dan apa hadiahnya,” suara Kelinci sedikit mengeluh karena ia tahu akan sangat sulit menerobos kerumunan hewan yang tubuhnya lebih besar darinya. Ia dijuluki pemimpi oleh hewan lainnya. Sukanya hanya tidur dan makan saja, sampai-sampai perutnya terlihat paling gendut dibanding dengan dua saudaranya. Tiba-tiba suara si Monyet terdengar mengejek, "Percuma saja hai Kelinci! Lomba ini tak akan cocok untukmu karena kau hanya pantas jadi pemimpi, dan tahun ini aku pasti yang akan memenangkannya."
Setelah berteriak mengejek Kelinci, si Monyet menjauh dari kerumunan para hewan. Ia melompat riang dari dahan ke dahan sambil bergumam, "Akulah pemenangnya." Kelinci pun tak menghiraukan ejekan si Monyet karena ia tahu memang begitulah sifatnya. Ia memilih untuk bertanya kepada Ular yang baru saja turun dari pohon.
“Ular, apakah lomba tahun ini cukup menarik untuk diikuti? Apakah hadiahnya juga menggiurkan?” tanya Kelinci penasaran.
“Sangat, sangat menarik dan menggiurkan. Dan sudah pasti pemenang akan dijamu oleh Raja Hutan dengan segala makanan kesukaan kita selama satu minggu sampai menjelang pesta ulang tahun putra sang Raja. Sudah pasti pemenang akan dinobatkan sebagai sang juara di puncak acara pesta.”
“Lalu, apa yang akan dilombakan minggu depan?” Kelinci semakin penasaran dan tak sabar ingin mendengar penjelasan si Ular.
“Lombanya adalah lari sejauh tiga ratus meter dan harus melewati sebanyak lima rintangan sepanjang perjalanan.”
“Oh, begitu. Apa kau akan ikut, wahai Ular?”
“Apa salahnya mencoba dan berusaha. Tak ada yang tak mungkin 'kan?”
“Ya, tak ada yang tak mungkin. Kita harus berlatih keras selama satu minggu ke depan agar bisa mendapatkan gelar sang juara dan tentu makan kenyang dengan makanan kesukaan kita."
Hari kedua setelah lomba itu diumumkan, hutan menjadi begitu riuh. Di kediaman Raja Hutan sudah tampak persiapan-persiapan yang dilakukan untuk pesta besar bulan Mei. Mulai dari membersihkan lingkungan sekitar dari sampah-sampah, mengumpulkan daun kering dan membakarnya, merapikan ranting liar yang mengganggu pemandangan sampai menata bunga-bunga yang dipungut dari sudut-sudut hutan.
Di lain tempat, banyak hewan yang sibuk melatih fisiknya agar kuat mengikuti lomba lari dan berharap memenangkannya. Setiap pagi hari, si Ular meliuk-liukkan tubuhnya seperti melakukan pemanasan sebelum ia mulai berlatih. Si Monyet juga tak mau kalah, setiap saat ia  melatih dirinya untuk berlari dan melompat dari dahan ke dahan. Gerakannya sangat lincah. Tak heran mengapa ia begitu sombong dan sangat yakin kalau dirinya yang akan jadi pemenangnya.
Gajah pun tak mau tinggal diam. Meski ia sangat kesulitan membawa tubuhnya yang besar, tetapi ia juga ingin meramaikan pesta tahunan yang diadakan oleh Raja Hutan. Setiap kali ia melatih kakinya melangkah dengan lebih cepat, semua hewan merasakan tanah yang mereka injak bergetar. Tapi lain halnya dengan Kelinci sang Pemimpi itu. Hari-harinya diisi dengan makan sebanyak-banyaknya dan setelah merasa sampai kenyang ia  tertidur di manapun dirinya berada.
“Putih, bagaimana bisa menang kalau kau tak pernah berlatih sama sekali,” tegur salah satu dari kakak Kelinci.
“Hmmmmmm… Tenang saja, kak. Apa kau meragukan adikmu yang hebat ini?”
“Ah, kau jangan ikut-ikutan sombong seperti si Monyet. Tak baik akibatnya.” Nasihat kakak Kelinci sambil meninggalkan adiknya yang masih saja menikmati makanan yang ada di meja.
***
Hari yang ditunggu-tunggu tiba juga, dan semua penghuni hutan berkumpul di tempat yang ditentukan oleh panitia lomba. Si Monyet dan hewan lainnya begitu bersemangat pada hari itu.
“Hai, pemimpi, apa kau yakin ikut perlombaan ini? Menyerah saja karena pada akhirnya kau akan malu,” hardik si Monyet pada si Kelinci.
“Aku memang pemimpi tapi aku pantang menyerah,” balas Kelinci dengan santainya.
Waktu menunjukkan pukul sembilan, tanda perlombaan akan segera dimulai. Masing-masing peserta diminta mempersiapkan diri untuk mendekati garis start. Gajah, Ular, Kelinci, Monyet, Rusa, dan sekelompok Semut bersiap-siap dan sudah berada di batas garis start.
“Perhatian, lomba ini harus dilakukan secara sportif. Tidak boleh ada yang curang atau saling melukai teman,” seru Burung memberi pengarahan. “Apa kalian siap?” lanjut Burung sambil mengangkat bendera.
“Siaaapp...” jawab para peserta lomba secara serentak.
“Satu... dua… tiga...” aba-aba dari Burung melepas peserta lomba.
Semua mulai konsentrasi dengan dirinya masing-masing. Berusaha semaksimal mungkin untuk lari sekencang-kencangnya. Napas Ular terlihat terengah-engah karena ia tak terbiasa bergerak cepat. Sampai pada rintangan kedua, sekawanan Semut begitu berkeringat dan berteriak, “Aku menyerah. Aku tak kuat lagi.”
Mendengar sekawanan Semut yang hampir menangis, gajah merasa iba dan ia menawarkan pertolongan.
“Naiklah ke tubuhku agar kalian tak lelah," kata Gajah.
“Baiklah. Terima kasih, Gajah.” Gajah pun bergerak lagi, mencoba melewati rintangan dan berusaha mengejar langkah hewan lainnya.
Si Monyet sudah melewati rintangan ketiga dan tiba-tiba ia berhenti dan tertawa terbahak-bahak.
“Ha ha ha ha… Tidur yang nyenyak wahai pemimpi. Mimpi yang indah dan esok kau akan melihatku menjadi sang juara.” Si Monyet rupanya melihat Kelinci tertidur pulas di bawah pohon rindang setelah melewati rintangan ketiga. Selama perjalanan Kelinci membawa bekal makanan dan dimakannya di sepanjang perjalanan. Seperti biasa, ia akan tertidur di manapun setelah merasa kenyang. Namun tiba-tiba saja si Monyet memegangi perutnya yang berbunyi. Ia ingat, karena begitu bersemangat sampai-sampai ia tak sempat makan satu hari ini.
“Untung saja aku membawa beberapa buah pisang,” gumamnya sambil melahap pisang yang dibawanya. Ia melempar kulit pisang itu. Setelah dirasa perutnya tak berbunyi lagi, ia melanjutkan perjalanan dan sudah membayangkan beberapa meter lagi sampai pada garis finish. Namun, tidak terlalu jauh dari tempat Kelinci tidur suara benturan keras terdengar.
“Bruaaaak.”
Ternyata suara keras itu berasal dari Monyet yang berusaha melanjutkan lari dan menginjak kulit pisangnya sendiri. Suara itu berhasil mengagetkan dan membangunkan Kelinci. Ia mengedip-edipkan mata seperti tak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia melihat si Monyet merintih kesakitan.
“Aduh, kakiku sakit sekali.”
Kelinci merasa iba dan ia mencari bantuan di sekitar tempat monyet terpeleset. Setelah ada panitia yang membantu Monyet, Kelinci pun meneruskan perlombaan dan tak berapa lama garis finish ia lewati. Sorak gembira terdengar dari semua hewan yang menyaksikan perlombaan itu.
“Horeeeee, aku sang juara,” teriak Kelinci sambil membayangkan hari-harinya selama satu minggu dengan wortel melimpah ruah yang disediakan Raja Hutan sebagai hadiah perlombaan.

View Post
ia meraut pensil dari tumpul ke runcing,
menggerakkannya di tiap lingkaran hingga gelap pekat.
ia memilih dengan hati - penuh hati hati
seperti (kemudian) menatap mata bulat ibu dalam kertas penuh cemas.

terkadang ia berhenti pada keraguan dan sebuah pertanyaan
apa benar yang ini atau yang itu
sementara waktu selalu tak mau menunggu.
tiba-tiba suara penanda terdengar berisik.
ia harus selesaikan petualangan juga kecemasan

"ya tuhan, kusut, wajah semrawut."

dan ia berlari menembus pikiran pikiran manusia dewasa
lalu sembunyi di sana.

View Post