L Margi's

AKU ADALAH TUBUH YANG LELAP DI KEHIDUPAN LAIN DAN TERBANGUN DENGAN SEGALA HAL YANG TAK PERNAH AKU DUGA SEBELUMNYA

Beberapa hari yang lalu bintang malam memberitahuku tentang sebuah buku.
"Kamu baca lalu pelajari buku Frans Kafka," tukasnya waktu itu dan aku belum mendapatkan bukunya karena belum sempat ke toko buku.

Penasaran pakai banget deh segera punya dan baca buku ini.

Siang ini, karena pulang kerja lebih awal, akhirnya aku putuskan untuk manfaatkan jalan ke beberapa tujuan. Setelah dari Natasha untuk membeli cream yang tinggal sedikit, langsung saja aku dan temanku ke toko buku yang tak jauh dari situ.

Seperti biasa aku lebih memilih melihat stok buku di komputer untuk menghemat waktu dan syukurlah, ternyata masih ada satu buku. Antara pesimis dan optimis sih, tapi segera saja aku cari rak yang dimaksud. Akhirnya benar apa yang aku pikirkan. Sama ketika dulu aku mencari buku Mahfud Ikhwan yang kebetulan tinggal satu dan tak ditemukan karena pengunjung toko buku yang iseng atau gak tertib kembalikan buku ke raknya setelah mereka baca.

Kalau masalah seperti ini aku gak gampang putus asa. Aku recokin deh mbak penjaga toko supaya ia bisa bantu aku mencari. Kami sampai dlosoran sekedar cari buku ini. Intip beberapa rak di samping-sampingnya. Sampai si mbak meminta bantuan dua temannya untuk ikut mencari dan akhirnya salah satu dari mereka bilang,

"coba saya cek di stok pesanan."

Aku mengeluh sambil ngomong sama temanku,

"Uh, tega banget sih yang letakkan buku sembarang tempat sampai gak bisa dicari."
"Halah, kita kan juga pernah seperti itu. Ketika buku itu tinggal satu atau dua dan gak punya anggaran beli akhirnya kita sembunyikan dengan harapan kita bisa balik lagi kapan-kapan untuk membelinya."

Hahahahaha

Aku menunggu sambil membantu dlosoran dengan kedua mbak lainnya. Dan datanglah si mbak yang tadi cek stok pesanan sambil membawa setumpuk buku. Buku yang sudah dipesan seseorang dan sangat lama tak diambil oleh pemesannya. Salah satunya adalah buku ini. Dan kami semua bahagia karena sudah lelah mencari buku ini.  Makasih banget ya Mbak’e…..kalian memang baik banget. J


Apa kamu juga bahagia?



bertahan dalam sebuah kegilaan adalah salah satu usaha menunggu waktu 
dimana akan ada sesuatu yang lenyap
kita hitung saja dari hari ini ya? 
apa yang terjadi pada pagi, siang, dan malam

bahagia atau sedih yang lebih beruntung
tawa atau air mata yang lebih sering berkunjung

andai saja ada yang mengajarkan tentang menentukan pilihan
atau melatih untuk menerima sebuah keputusan
mungkin tak akan pernah ada yang saling menyakiti atau tersakiti

mereka dan terlebih diriku sendiri

maaf,
ketika aku memilih untuk lenyap, itu karena aku sudah tak berani hidup


Mula sekali aku mengetahui nama Yetti A.KA adalah ketika aku ngobrol dengan salah satu teman dari Malang. Saya menyukai tulisan-tulisannya dan jika sudah begitu pasti saya akan mencari tahu buku apa saja yang sudah ia baca atau mungkin penulis siapa saja yang dia suka. Aku yakin dari tulisan-tulisannya yang asyik pasti lahir dari bacaan yang bergizi. Waktu itu saya minta referensi cerpen siapa saja yang harus saya baca, dan dia bilang cerpen Yetti A.KA.
“Coba search di internet dan kunjungi blognya.” ujarnya waktu itu.

Saya milai membaca beberapa cerpennya dan kebetulan waktu itu hari Minggu. Rutinitas minggu pagi nongkrong di penjual susu sapi sambil membeli Jawa Pos, Kompas, dan Radar Surabaya. Membuka-buka cerpen dan puisi. Eh, ternyata cerpennya Yetti A.KA yang waktu itu judul cerpennya “Perempuan yang Memegang Tali Anjing”. 
Memang tulisan-tulisannya asik. Bahkan ada beberapa cerpennya yang ketika saya membacanya emosi bisa naik turun seperti sedang naik Roller Coaster. Seketika itu buku-bukunya saya masukkan dalam daftar list yang harus ada di perpustakaan pribadi saya. 
Buku Kumpulan Cerpen Yetti A.KA
              (Koleksi Foto Pribadi)

Saya mulai mencari buku-bukunya dan awal sekali saya mendapatkan buku kumpulan cerpen “Seharusnya Kami Sudah Tidur Malam Itu”. Kemudian tak berapa lama saya mendapatkan lagi bukunya yang berjudul “Penjual Bunga Bersyal Merah.” Dari dua buku itu aku ketagihan baca karyanya. Saya coba mencari buku-bukunya yang relatif baru, karena saya yakin kalau buku yang lama pasti susah sekali didapat. Kalaupun ada pasti di lapak online dan saya  tak suka belanja online. 

“Peri Kopi” adalah buku incaranku. Beberapa waktu mencarinya di toko buku yang biasa saya singgahi sudah tak ada. Makin penasaran saja rasanya sampai pada suatu sore ketika saya pulang kuliah, saya membelokkan motor ke salah satu toko buku terbesar di Surabaya. Dan akhirnya dapatlah buku itu. 
“Hmmm, ternyata novel.” Hahaa … 
Saya tak pernah suka baca novel. Tetapi dengan pengalaman membaca cerpen-cerpennya, saya yakin meski buku ini sebuah novel pasti gaya menulisnya tak akan beda dan akan tetap sama asiknya untuk dibaca. 
Bulan kemarin aku melihat postingan buku barunya yang akan terbit. “Pantai Jalan Terdekat ke Rumahmu”. 

Memang harus sabar untuk menunggu buku itu ada di toko buku langgananku yang setiap hari memberi best price dengan diskon lumayan besar bagi 100 pembeli pertama. Itu memang resiko kalau tak suka belanja online. Tapi tak apa, karena Surabaya adalah kota yang tak pernah sulit mencari bermacam buku terlebih buku penerbit basabasi selalu lengkap di toko buku langgananku itu. 

Hari ini beberapa teman mengajak ke toko buku untuk mencari beberapa buku literatur. Dan iseng aku menuju komputer toko untuk cek stok buku, ternyata buku Yetti A.KA sudah terpajang. 
Lha saya trus mau bilang apa ???
Tak mau bawa buku itu pulang ????
Ya tanggung dong, jadi ambil saja dengan pertimbangan aji mumpung. 
“mumpung di toko buku, mumpung sudah ada, dan mumpung belum habis.” meski bulan ini anggaran untuk beli buku terlalu berlebih. 
Seperti biasa, saya dan teman-teman tak langsung pulang, tetapi duduk di cafe toko buku itu. Memesan makanan dan minuman, juga membuka segel buku dan membacanya. 
Cafe dimana saya pernah diajari menulis puisi oleh dia…
Ya, dia. Penyair Hebatku. hahaha

Selamat berburu buku baru Yetti A.KA ya ..,
Pasti gak bakal menyesal deh. Paling tidak, buat kalian yang lagi galau tak bisa memaafkan orang yang sudah sakiti kalian, atau kamu baru saja di blokir orang tanpa kalian tahu alasannya dan itu buat kalian merasa terhina, dengan memegang dan membaca buku Yetti A.KA pasti akan lenyap seketika. Maksud saya lenyap ketika kalian membaca buku itu sampai habis. Setelah itu urusan hati kalian mau dilanjut apa nggak galaunya. Hahahaha

Semoga bahagia selalu







“Kau ini gila atau sinting? Selesaikan dongengmu malam ini juga dan kau rasakan bagaimana rasanya bercinta.
“Tapi aku takut.”
“Takut apa?”
Percakapan Alamanda dengan Mei pada cerpen Dongen Sebelum Bercinta adalah bukti bahwa


“Sekuat dan sehebat apapun manusia, pasti akan memberi ruang sembunyi untuk rasa takut dalam diri mereka.”


Sungguh, saya dibuat geli dengan cerpen ini. Lama sekali saya tahu bahwa buku-buku Eka kurniawan adalah buku yang bergizi layaknya makanan sehat yang harus saya konsumsi setiap hari. Tetapi entah, sejak saya banyak membeli, membaca, dan mengoleksi buku cerpen dan puisi dari beberapa penulis di perpustakaan pribadi saya hanya terpajang satu buku “Perempuan Patah hati yang kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi.” Dan masih terbaca beberapa cerpennya.

Selepas berlama-lama di perpustakaan kampus sekedar melihat beberapa contoh tesis, rasanya pusing juga. Lirik ke kanan meja sebelah terlihat buku Eka Kurnawan “Corat Coret di Toilet”. Sepertinya si pemilik buku sedang sibuk mengetik bab-bab dari tesisnya. Saya meminjamnya dan seperti biasa, langsung lari ke daftar isi. Tiba-tiba saja pikiran nakal saya mulai muncul. Cerpen kedua dalam buku itu judulnya “Dongeng Sebelum Bercinta”. Meluncurlah saya ke halaman 11 dan ketika membaca beberapa paragraf, saya mengalami beberapa fase. Hahaha. Fase mulai dari senyum - menahan tawa - sampai tertawa terbahak – dan kemudian dibuat lemas oleh ending tentang kisah malam pertama Alamanda dan suaminya. Semestinya cerpen 11 halaman ini mampu membuat saya merenung. Dalam…sedalam dalamnya. Sampai pada kedalaman yang paling dalam.

Kenapa saya mengikat makna cerpen ini?
Pertama, cerpen ini mengajak saya menyadari bahwa ketakutan-ketakutan itu semacam monster yang selalu muncul. Jadi, saya atau siapapun tak mungkin bisa menghindar. Perbedaannya hanya pada bagaimana manusia itu menerima, menyapa, dan mengajak berdialog ketakutan dalam diri mereka. Pemberontakan Alamanda dalam hal perjodohan tanpa cinta yang tak mampu ia lakukan secara terang-terangan meski ia mengabaikan juga beberapa norma yang ada. Terlebih ketika ia mempunyai hubungan istimewa dengan lelaki romantik dan cerdas yang sama-sama mempunyai jiwa pemberontak. Laki-laki dari keluarga berada yang  meninggalkan segala kemewahan demi sebuah kebebasan. Bedanya, dalam pemberontakan alamanda, ia masih mengedepankan rasa takut. Takut miskin, takut dengan sanksi sosial yang pasti dihadiahkan oleh keluarganya jika ia menolak perjodohan dengan sepupunya. Pada akhirnya cintapun terkalahkan dengan ketakutan-ketakutan. Bahkan ketka ia sudah memutuskan menyerah dengan sekitar, ia juga masih saja menutupi ketakutan dalam dirinya. Ia membuat kesepakatan bercinta di malam pertama setelah ia selesai mendongengkan sebuah cerita. Hal itu semata ia tak ingin suaminya mengetahui bahwa ia sudah tidak perawan lagi.

Kedua, Saya merasa cerpen ini disampaikan dengan begitu santai bahkan saya menemukan beberapa percakapan yang sempat membuat saya berpikir bahwa Alamanda adalah tokoh yang sangat nekat dan sedikit iseng. Salah satunya saya dapatkan percakapan ketika calon suaminya menyampaikan bahwa ia sudah menemui ayah Alamanda untuk meminangnya.
“Sayang, aku sudah melamar kepada ayahmu.”
“Begitu?” Alamanda berkata acuh tak acuh.
“Kapan kau akan menikah dengan ayahku?”
Betapa terbahaknya saya membaca percakapan ini, membayangkan seandainya saja saya yang mengatakan itu.

Ada juga permintaan nekat Alamanda pada kekasih pengecutnya, agar ayahnya membebaskan ia dari perjodohan tanpa cinta.
“Sayang, perkosalah aku!” Alhasil sang kekasih hanya diam mematung.

Dan yang paling konyol ketika saya membaca pada malam suami Alamanda ngompol dalam tidurnya karena sudah lebih dari satu bulan pernikahan mereka tanpa ada malam pertama; tanpa bercinta.
“Nah, kan!” Tiba-tiba suara suaminya membuyarkan semua lamunannya
            “Kenapa?” Tanya Alamanda.
            “Aku ngompol.” Jawab si suami.
            “Sebesar ini kau ngompol?”
            “Bukan ngompol anak-anak, sayang.”

Hmmm….membaca cerpen ini cukup mengocak perut juga rasanya.
Tetapi pada prinsipnya, saya sangat paham bahwa menyambut dan menerima ketakutan-ketakutan dalam diri dengan keramahan tak semudah memesan milo panas pakai es di warung kopi sekitaran Yogyakarta.
Sungguh….sangat tak mudah. Satu-satunya cara adalah pelan-pelan saja, menyapanya dengan kerlingan mata
“Hei, ketakutan. Apakah kau bahagia menemui aku?”

Semoga Bahagia Selalu