Google.com

SEPULUH BULAN BERJALAN, SEORANG LELAKI TERUS MENANTI ISTRINYA YANG AKAN MEMBERINYA KETURUNAN.

“Apa ada masalah dengan kandunganmu, dik?” tanyanya kepada istrinya. “Sebaiknya besok kau ke rumah sakit untuk periksa calon anak kita. Mungkin saja kau salah menghitung bulan kehamilanmu,” lanjut lelaki itu dengan perasaan cemas.
 Wanita itu hanya diam karena menganggap suaminya itu sangat berlebihan. Hal itu terjadi karena janin yang ada dalam kandungan istrinya adalah impian yang ia tungu-tunggu selama lima tahun pernikahan mereka. Wanita itu malah sibuk menyelesaikan rajutannya yang hampir jadi. Ia sudah menyimpan hasil rajutan sepatu bayi yang ketiga belas dalam keranjang baju di atas buffet ruang tidurnya. Hari-harinya diisi dengan membuat sepatu rajut yang ia pelajari dari youtube.
“Kenapa kau tidak khawatir sama sekali dengan kandunganmu, dik?” suaranya kali ini agak tinggi sambil meraih remote control TV dan menekan tombol off. Mendadak sunyi dan mungkin itu lebih baik karena berita di televisi sekarang banyak membuat hati pemirsanya cemas. Sudah tak ada hiburan di sana. Yang ada hanya berita perselingkuhan yang diakhiri dengan pembunuhan, berita seorang anak yang depresi dan bunuh diri karena gagal masuk perguruan tinggi negeri, berita bom yang mengatasnamakan jihat, atau berita korupsi yang tak pernah ada hukum mampu menjerat karena pelakunya para penguasa.
“Iya, kang. Aku besok akan ke rumah sakit. Tapi jangan ngomel terus. Sekarang kita tidur saja dulu.” Jawab wanita itu sambil susah payah berdiri dari kursi karena perutnya yang sudah sangat besar. Ia mematikan lampu di beberapa ruangan dan menuju kamar. 
***
Malam makin menggantung semua pertanyaan yang ada dalam benak lelaki separuh baya itu. Sudah dua minggu ini matanya susah sekali terpejam dengan tenang. Hanya hitungan menit ia bisa lelap dan selebihnya ia terjaga lagi. Ia berusaha mengingat apa yang membuatnya seperti ini. Ia menghitung situasi seperti ini dialami beberapa kali dalam hidupnya. Awal sekali ketika ia akan meminang Sumi – perempuan yang saat ini akan memberi keturunan padanya. Enam tahun lalu, tepatnya ketika mereka sama-sama merantau dan kuliah di perguruan tinggi yang sama. Sumi satu tingkat di bawahnya dan ia benar-benar ingin meminangnya.
“Aku sudah kehilangan ibu sejak aku kecil. Aku tak mau lagi merasakan kehilangan. Apakah kelak ketika kau bosan denganku juga akan meninggalkan aku sendirian?” tanya Sumi padanya. Ia memeluk – erat dan berjanji tidak akan meninggalkan sampai kapanpun. Satu minggu menjelang pernikahan, ia diserang insomnia. Gelar Sarjana yang ia dapat belum juga membawa dirinya pada kemapanan hidup, tapi ia sudah berjanji akan menikahi Sumi. Ia membayangkan bagaimana bentuk pernikahan yang akan ia jalani dengan Sumi. Apakah ia mampu memberi kebahagiaan Sumi secara finansial, sedangkan terkadang perutnya sendiripun masih sering ia hibur dan ia bohongi. Apakah ia benar-benar cinta dengan Sumi? Apakah ia akan bisa setia pada Sumi? Pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu itu akhirnya lewat juga setelah melewati resepsi pernikahan yang sederhana. Sangat sederhana dan beruntung Sumi adalah wanita yang tak pernah menuntut apapun darinya.
Tahun pertama, kedua semuanya masih sangat indah. Apakah ada yang lebih membahagiakan memiliki istri yang ikhlas dengan hari-hari tak tentu. Pekerjaannya sebagai penulis lepas membuat ia tak pernah menjanjikan hal yang berlebihan pada Sumi.
“Dik, kita harus berhemat. Honorku dari perusahaan yang memakai jasaku belum juga masuk ke rekening,” ucapnya ketika ia harus menahan keinginan istrinya untuk mengirim uang pada adiknya di kampung. “Belum juga kontrakan kita yang tinggal tiga bulan lagi sudah habis dibayar lagi.” Sumi hanya senyum, entah senyum ihklas, getir, atau senyum pasrah dengan keadaan. Yang pasti Sumi selalu setia menemaninya selama dua tahun ini dengan keadaan yang serba sederhana. Cinta Sumi padanya benar-benar teruji.
Tahun-tahun berikutnya adalah tahun yang sangat sepi. Rumah kontrakan berukuran enam puluh meter persegi itu masih saja sepi. Tak ada suara tangisan bayi yang haus minta tetek ibunya atau suara kaki-kaki bocah kecil yang berisik berlarian keluar dalam rumah. Hanya ada suara tombol-tombol huruf pada laptop yang membentuk irama indah serupa musik klasik yang sangat ia suka. Itupun terdengar ketika malam telah datang, ketika semua penghuni bumi sedang melepaskan harapan mereka pada mimpi, meninggalkan sebagian beban mereka pada langit gelap. Ini adalah kali kedua ia dihampiri insomnia berminggu-minggu.
Setiap kali malam datang, ia mengurung diri di ruang kerja. Pikirannya keliaran entah kemana. Sumi sudah tak ada dalam prioritas pertama lagi baginya. Yang ada hanya usaha untuk  melenyapkan kesunyian yang makin hari makin sempurna. Satu malam yang tak pernah  terduga, ia mendapat kabar dari seseorang yang kabarnya lama tak ia dengar.
“Aku sedang ada di kotamu,” pesan itu membuat ia terbelalak.
“Ning? Kamukah ini?” gumamnya sambil mengamati foto yang muncul di layar handphonenya. Tak perlu berpikir lama ia membalas pesan itu dan mereka membuat janji untuk saling bertemu.
***
“Kau makin tampak matang saja, De?” suara itu membuatnya gemetar. Tapi ia berhasil mengendalikan keadaan. Beberapa batang rokok membuat napasnya sedikit mudah diatur. Ia tak berani menatap wanita yang ada di depannya.
“Kau dinas ke kota ini dengan keluargamu?” tanyanya berusaha memperlihatkan kewajaran. Namun wanita di depannya menggelengkan kepala berkali-kali seperti berusaha melakukan penolakan atas pertanyaan itu.
Ning adalah wanita yang lembut, tak sekuat dan setegar istrinya yang saat ini sedang mempertahankan kesetiaannya meski beberapa kali ia merasa menjadi wanita yang tak berguna. Wanita yang tak mampu memberi keturunan hanyalah wanita yang layak untuk menyerahkan nasib pada sebuah perselingkuhan atau poligami. Kali ini ia masih melihat Ning yang sama dengan beberapa tahun lalu. Wajah manis yang murung dan tak pernah ada yang tahu apa penyebabnya.
“Berapa lama kau akan singgah di sini?”
“Mungkin tiga hari. Apa kamu mau menemani aku?” balasnya dengan tatapan memohon.
“Entahlah, banyak sekali  pekerjaan yang harus aku selesaikan dalam minggu ini.”
Hari makin larut dan mereka masih saja sibuk dengan pikiran masing-masing. Sesaat ia melupakan apa saja yang membuat otaknya lelah. Ia biarkan malam itu mengalir apa adanya seperti mendung yang bergeser pelan – sangat pelan dan aroma tanah basah karena hujan menguar. Matanya memejam, sengaja membiarkan hidungnya menghirup dingin yang dikirim semesta lewat sekujur tubuh wanita yang ada di depannya.
Mereka terbawa suasana, berusaha saling melupakan apa saja yang ingin melintas dalam pikiran. Tak ada suara tombol-tombol laptop yang membentuk irama musik klasik, tak ada suara Sumi yang merajuk dan memohon agar tak ditinggalkan hanya karena belum bisa memberi keturunan. Malam ini ia menjelma kucing jantan yang mengendus-endus, menjilati tubuh seekor kucing betina. Mereka berdua menggelepar, merintih, mengerang, mendesah, kemudian terdengar napas yang terengah-engah – panjang tak tertahan dengan kedua tangan yang mencengkeram.  Mereka lupa beberapa kesedihan yang mereka bawa sampai matahari menembus kelambu dalam kamar.
***
“Aku harus pulang, Ning.” Ia mengenakan pakaiannya secepat ia melupakan adegan semalam. Apa yang bisa dilakukan wanita lemah yang hanya bisa menjadi pemuas dan melipur laki-laki yang sedang butuh dimanja? Diam, wajah Ning tertunduk dan ia tak mampu menangis karena ia sudah lelah menangis.
Ning hanya menulis surat dan berharap De membacanya ketika pesawat sudah membawanya pergi meninggalkan.
De, terima kasih kamu sudah membuat aku merasa kecewa kedua kalinya. Dulu aku masih berusaha menerima ketika kau meninggalkan aku di kampung dan memutuskan merantau untuk belajar dan kau berjanji suatu saat akan kembali. Dan kau meninggalkan aku. Dan saat ini, entahlah, De. Apakah aku masih bisa memaafkan kamu dengan apa yang kau perbuat padaku. Seharusnya kau menjagaku, De. Dan bukan memanfaatkan aku. Maaf, kalau kali ini aku tak bisa membuat kamu tenang dalam hidupmu. Aku akan memutuskan untuk tinggal – dekat denganmu.
Perasaan dosa menghantuinya. Tapi ia meyakini apa yang dilakukannya bersama Ning adalah hal wajar yang dilakukan dua manusia dewasa dengan penuh kesadaran. Seharusnya Ning tak perlu marah denganku, gumamnya dalam hati berusaha melakukan pembenaran pada apa yang terjadi. Waktu membantunya melewati, melupakan apa yang terjadi. Sebuah pengkhianatan.
***
Tak ada mendung pagi ini. Hanya ada kabar gembira yang dibawa Sumi untuknya. Wanita itu tergopoh-gopoh menemuinya di teras sambil mata yang berkaca-kaca.
“Aku hamil, bang. Kita akan punya anak.”
Ia terperangah dan tangis mereka meledak bersama, saling memeluk dan mengucap syukur. Ia berpikir bahwa tak akan ada lagi rasa sepi dalam hidupnya. Ia membayangkan betapa sebentar lagi hidupnya akan sempurna. Menikah dan memiliki keturunan adalah salah satu kesempurnaan hidup.
Namun ia salah, karena pada kenyataannya tak pernah ada kesempurnaan dalam hidup. Sama halnya kecemasan yang muncul ketika sepuluh bulan menanti suara tangis bayi dari rahim istrinya. Kecemasan yang sekali lagi mendatangkan insomnia dalam hidupnya berminggu-minggu lamanya.
“Istri bapak mengalami hamil anggur dan terpaksa kami akan melakukan tindakan pada rahimnya.” Ia merasa tidak mendengarkan penjelasan dari seorang dokter tentang apa yang dialami Sumi, melainkan ia sedang ditampar oleh nasib dan pada akhirnya ia menyerah dan bibirnya kelu ketika membaca sebuah pesan dari seseorang:
Terima kasih, De. Kau dan istrimu begitu memanjakan aku. Sepuluh bulan waktu yang sangat cukup membuat aku bahagia karena begitu dekat denganmu. Sangat dekat sampai kau tak pernah menyadarinya. (*)
  

View Post



April

/1/
april dengan musimnya
sepasang burung menari
berputar di atas sawah
memanen mimpi mimpi petani

kicaunya yang riang
samar terdengar, serupa nyanyian
dari surga

suaranya memantul pada
dingin dinding lembah
menjauh lalu menghilang
serupa angin yang merebahkan tubuh sunyi
di bawah langit telanjang

/2/
aku berjalan menuju timur – pantura
melewati hutan rimbun
pohon pohon rahasia
gubuk mungil dengan cahaya redup
menemui suara suara sunyi

:suara yang diciptakan
dari wajah diam perempuan

langkahku terhenti di bibir pantai
ketika laut mengirim buihnya pada sepasang kaki

aku sendiri – bebas!
dalam malam gaib pulau merah
memandang bintang,
ombak, dan tipak di atas karang

/3/
april dengan musimnya
membawa perjalanan pada legenda
dua ratus empat puluh tujuh tahun silam

bersama april
aku meninggalkan cemas
di sebalik letupan kawah
pada sebuah dusun yang damai


Pagi di Bulan April

debu yang diterbangkan angin, pada sisa-sisa april 
dengan tangan pucat oleh dingin dini hari, ia menulis sebuah fragmen:
pelukan hangat, mata berair, dan senyum yang sembunyi antara ribuan wajah
nampak di atas bukit, kota-kota kecil begitu tak berjarak dengan sekumpulan
awan senyap – tak terlihat keramaian di sana. hanya lampu-lampu yang
berdialog dengan langit – semesta

kaki-kaki kuat lalu lalang, melintas di setapak berkerikil dan penuh pasir
mereka meraba nasib hari ini lewat roda-roda yang ditariknya
menyimpan wajah wanita dan bocah kecil di napasnya
yang sebentar datang sebentar hilang

ia memejamkan mata membiarkan angin menerbangkan tubuhnya
serupa kapas ia melayang-layang, ringan tak ada beban
ia tak menyoal takdir membawanya

terbang ke angkasa, tenggelam di dasar laut, tersesat di rimbunan pohon, atau bahkan jatuh ke jurang curam

sampai pada ia terbangun karena sebuah uluran tangan


Apa Kau Masih Menunggu April?

/1/
kaki kita melangkah – serasi
pada sebuah tanjakan juga turunan
aku di kiri dan engkau di kanan
kau tak ingin menjauh, tak juga meninggalkan
sesekali jalanan licin mencuri kebersamaan
betapa menyakitkan untuk bahagia

/2/
lalu ia bercermin dan berucap
apa aku bisa menemuinya serupa hari ini?
ya, bisa: suara dalam cermin memantul
pada dinding, langit-langit kamar

lalu tangan mereka menyatu
bergandengan
menggenggam
erat
kemudian berjarak

tak boleh sedih sebab mereka yakin
setiap yang ada akan tiada
dan mereka akan bersama dalam ketiadaan






L Margi, lahir dan besar di Surabaya. Mahasiswa Pascasarjana Prodi Dikdas di Universitas Negeri Surabaya.


View Post


Di Balik Gunung Sahilan

“menunggu sebuah nama pulang”

matahari tenggelam di balik gunung sahilan
malam mulai bersenandung
arak-arakan burung mencari induknya
di antara gelap dan sunyi

lelaki itu terpejam bersama pikiran
pikiran liar mengembara pada
bukit rimbang baling dengan
sepasang rusa menari di bawah cahaya langit

aroma dingin dari pohon-pohon basah
membawanya menyusuri sungai
kampar kiri dengan piyau yang dirakit oleh
tangan para nelayan
airnya begitu jernih dan tenang
dengan ikan-ikan kecil yang selalu terjaga

lelaki itu melihat bayangan sebuah wajah
di dasar sungai sangat dalam
seperti puluhan tahun silam ia
memanggil-manggil sebuah nama

sebuah nama yang menghilang
:dan ia menunggunya pulang

nama yang terkubur sepanjang
sijunjung - singingi


Lubuk Larangan

Sampaikan padaku tentang sebuah keresahan

ketika kemarau datang
sepanjang kampar kiri,
angin menerbangkan suara
celempong dan gendang gong

seekor ikan geso menangis,
‘aku akan merindukan kekasihku.’

ia merayakan kesedihan; melepas kenangan
pada jaring yang melingkari nasibnya

seekor ikan lain berkata:
‘aku akan membangun istana serupa gunung sahilan.’

ia menjemput bahagia; sembunyi
di balik rimbang baling tanpa kekasihnya

lalu mereka setia menunggu penghujan  

pada tempat yang berbeda


Masa Kecil di Kampar Kiri

di atas batu ia melukis raut wajah
kemudian ia menarik tubuhku
masuk pada kedalaman lukisan yang belum ia selesaikan
hanya serupa sketsa,
                                              
aku melihat air tertahan pada sudut matanya

ia rindu pulang – rindu,
pada kesunyian rimbang baling;
air jernih yang mengalir sepanjang kampar kiri;
dan dingin gunung sahilan dini hari,

aku melihat air tertahan pada sudut matanya

lalu kami menyusuri sebuah desa  
pohon rindang dan gemercik air terdengar
ia mengeja sebuah nama di masa kecil
nama yang tiba-tiba menghilang, 
bersama raut wajah dalam lukisan

aku melihat air tumpah pada kedua matanya



View Post


Aku memutuskan untuk menemui Fa di hotel tua itu. Aku meninggalkan tubuhku yang terbaring di ranjang dengan make up yang belum kuhapus dari wajah. Aku juga melihat bibirku masih tersenyum seperti biasanya dengan lipstik warna soft kesukaanku.
Kamar di salah satu hotel ini tak ada bedanya dengan kamar dimana tubuhku sekarang terbaring. Ranjang dengan sprei yang berantakan dengan buku dan beberapa note. Lampu meja yang menyorotkan cahaya kuning ke seluruh dinding, juga langit-langit kamar. Aku sangat menyukai cahaya lampu teduh yang selalu menemaniku menemui ibu dalam mimpiku—dan malam ini aku juga menemui cahaya itu di kamar sebuah hotel dimana Fa menungguku. Wajah Fa begitu bahagia. Lesung pipinya terlihat ketika ia tersenyum melihatku di depan pintu kamar hotel, ketika tubuhku menghambur—memeluknya erat.
 “Aku kangen,” sengaja kudekatkan bibirku pada telinga Fa dan semakin mempererat pelukanku.
Tak begitu lama, Fa sedikit melepas pelukanku, merenggangkan tubuh dan mata kami saling tatap. Mata yang sama-sama ingin berkata bahwa saat ini kami bahagia. Fa  begitu menikmati – melihat wajahku yang tak bisa ia temui sesuka hatinya. “Cukup lama aku menunggumu,” suara Fa membuatku tersenyum manja.
Malam ini, aku tak ingin melewatkan sedetikpun bahagia bersama Fa. Dan aku juga sangat yakin Fa merasakan hal yang sama. Aku akan melakukan apapun untuk menebus ribuan malam yang selama ini hanya sebatas imajinasi. Dan Fa menepati janji untuk menungguku.
Apakah kau bahagia?” Tanya Fa penasaran. Sepertinya ia mencari sebuah kepastian di wajahku.
“Ya, aku bahagia,” jawabku. Aku lupa kapan terakhir merasa bahagia. Otakku sudah tak mampu lagi merangkai perjalanan hidupku dengan utuh. Yang ada hanya ingatan-ingatan yang patah – peristiwa berupa potongan-potongan gambar serupa puzzle. Kadang aku merasa gelisah ketika gagal merangkai potongan puzzle itu menjadi utuh. Dalam kondisi seperti itu, pasti aku mulai meracau liar. Aku ingin menukar otakku dengan otak seorang cerpenis atau otak seorang penyair. Mungkin saja itu sedikit membahagiakan. Aku akan bisa dengan bebas sembunyi dalam cerita pendek yang kutulis. membiarkan semua air mataku berlarian dengan riang dalam puisi liris, juga tak perlu lagi meninggalkan dunia yang selalu membenturkan realita dan ilusi.
Betapa selama ini aku selalu mengalah dengan realita. Menemui manusia yang menjelma seekor kucing dan mengendus-endus, menjilat demi memuaskan diri, melihat banyak orang yang lebih mementingkan suara perut daripada suara hati, memaksakan diri menjadi wanita yang bahagia dengan menyelimuti air mata dengan senyum. Betapa banyak topeng yang harus aku pakai untuk hanya sekedar bertahan hidup. Menunggu pagi datang, kembali menjadi malam, lalu menunggu pagi datang lagi. Yang sebenarnya aku telah mati, jauh sebelum tubuhku berada dalam tanah gelap tanpa cahaya.
Fa tertawa terpingkal-pingkal. Mata sipitnya semakin menyembunyikan bola matanya yang hitam. Mungkin saja kalau waktu itu aku meninggalkannya, pasti Fa tak akan menyadari. Aku sedikit kesal ketika melihat Fa tertawa, karena aku tak tahu apa yang membuatnya begitu terpingkal-pingkal. Aku mengingat, dua tahun yang lalu, aku juga tertawa seperti itu, ketika sahabatku yang bertubuh subur berkata,
"Kau butuh psikiater. Kau sakit." Aku merasa geli dengan ucapan itu, meski mungkin saja benar apa yang dikatakannya. Ya, aku memang butuh psikiater.
“Aku ingin menjadi burung Feniks dan pasti aku akan bahagia ketika berhasil reinkarnasi setelah membakar tubuhku sendiri. Aku ingin hidup lagi menjadi manusia yang tak pernah lari dari ketakutan-ketakutan.
"Hentikan bualanmu itu, kau hanya terlalu banyak membaca cerita fiksi," sahabatku tak hentinya mengomel sambil terus menghabiskan makanan yang ia pesan yang sekarang ada di atas meja kami. Ia memang lebih suka menghabiskan makanan daripada menghabiskan air mata untuk kesedihan.

***

“Kau ingin menjadi burung Feniks?" Tukas Fa tiba-tiba sambil berusaha menatap lekat mataku. Aku mengangkat wajah sambil menatap balik wajahnya dan aku mendesah lirih, "Hmmmm, ya,"
Aku ingin terbang bebas, berkicau, mengepakkan sayap, mengais makanan sendiri tanpa merasa kakiku terpasung. Aku juga ingin sembunyi dari lelaki yang mungkin saja malam ini tidur di samping tubuh yang  kutinggalkan di ranjang dalam kamarku.

Tak pernah jelas apa yang membuatku bertahan. Setiap hari, aku hanya menjadi penghuni kamar dengan pendingin ruangan dan beberapa gelas minuman penghangat tubuh. Aku belajar mengalah dengan realita ketika lelaki itu tiba di rumah, dimana malam, siang, atau pagi sudah sangat sulit dibedakan. Pertengkaranku dengan lelaki itu sangat melelahkan. Aku meminta waktu dan lelaki itu membuang waktu. Bahkan pertengkaran itu selalu berakhir dengan kami sama-sama melihat wajah seorang bocah yang pucat, terdiam ketakutan.
Aku mulai bisa berdamai dengan realita. Ah, lebih tepatnya mulai mengalah dengan realita. Aku mulai mengoleksi beberapa topeng dengan ekspresi bahagia untuk kupakai setiap kali berada di keramaian dan ketika tiba di kamar, kutanggalkan topeng itu. Sebenarnya aku juga ingin melepas otakku, meletakkannya dalam toples kemudian memasukkannya dalam lemari es. Setidaknya otakku akan menjadi dingin dan aku tak perlu memikirkan apapun. Beberapa kali aku berhasil mengurungkan ide gila itu dengan menyibukkan diri membuka laptop di atas meja yang letaknya persis di samping kanan ranjangku. Membaca beberapa cerpen dan puisi yang selalu dikirim Fa padaku lewat whatsapp atau email. Fa selalu bilang, "Membaca dan menulislah." Mulailah Fa selalu mengirim beberapa cerpen dan puisi untuk kubaca dan Fa juga sering mengajakku terbang ke langit di setiap malam-malam kami.
Aku benar-benar berdamai dengan realita.

***

Meski aku tahu bahwa diriku telah mati, jauh sebelum tubuhku kaku dan tertutup oleh tanah, aku harus terus menjadi pemain sinetron yang berhasil memenangkan berbagai penghargaan dan mendapatkan puluhan piala citra. Di keramaian aku adalah sosok yang sempurna dan bahagia.
"Kau wanita yang sangat beruntung. Apa yang kau minta selalu terpenuhi," ucap beberapa teman setiap kali kami terlibat dalam percakapan. Terkadang aku sendiri merasa mual mendengar ucapan mereka, tetapi sedikit terhibur ketika melihat semua wanita itu iri padaku. Ingatanku saat ini hanya bayangan bocah dengan wajah pucat, terdiam ketakutan.

Aku semakin nyaman dengan kesendirian. Bagiku sendiri itu lebih membahagiakan karena aku tak perlu menutup wajah dengan topeng. Aku bebas menangis sepuasnya tanpa harus ada yang melihat mata sembab atau tanpa ada orang yang selalu ingin tahu dengan bertanya ada apa? kenapa?
Aku ingin tidur nyenyak malam ini, ucapku dalam hati sambil membaca puisi doa berulang-ulang, sampai aku benar-benar meninggalkan malam—sendirian dan berharap keesokan paginya akan baik-baik saja.
Aku membuka mata dan ingin mengambil jam tangan yang  kuletakkan di atas meja rias, tapi tak kutemukan. Jam tangan itu hilang dan aku tak tahu apakah hari masih malam atau sudah dini hari. Satu-satunya penunjuk waktu bagiku adalah jam tangan yang selalu kupakai tanpa pernah melepasnya. Karena semua manusia dalam rumahku tak butuh penunjuk waktu. Tak ada satupun jam dinding yang menempel di setiap ruangan dan sekarang jam tangan itu menghilang. Apakah lelaki itu juga yang membuangnya? Tak cukupkah ia membuang waktu? Aku meraba pergelangan tangan kiriku yang tanpa jam dan hanya ada darah segar mengalir di sana.

***

"Kenapa kau memilih bertahan?" Tanya Fa suatu malam melalui whatsapp. "Kau takut miskin? Itu katamu," suara Fa membuatku gemetar. Itu pertanyaan sederhana yang seharusnya mampu aku jawab, tapi kenyataan aku tak mampu menjawabnya.
"Tak semudah itu, sayang." Aku menjawab dan berusaha menyembunyikan suara tangisku.
"Kita pasti bisa bersatu." Suara Fa kembali terdengar menenangkanku.
Besok malam aku menunggumu di hotel tua, lantai dua kamar nomor 103. Fa mengirim pesan itu padaku. Dan aku sangat girang karena sebentar lagi kami akan bertemu. Aku mulai membayangkan betapa bahagia ketika meluapkan rasa sayang entah dengan cara apa.
Baiklah, aku akan datang. Aku membalas pesan itu tanpa bisa menyembunyikan rasa bahagia. Aku tahu, saat ini kami tak mungkin bertemu kapanpun dan di manapun sesuka kami. Melainkan harus dalam kondisi yang benar-benar penuh pertimbangan. Sekuat apapun cinta, realita membatasi relasi yang kami bangun.

Dan malam ini kami duduk di tepi ranjang sebuah kamar hotel. Saling melepas perasaan masing-masing. Sesekali bibir Fa menenangkan bibirku yang gemetar karena rasa takut. Aku merasakan dekapan Fa sama hangatnya dengan puisi-puisi yang lahir dari tangannya.
"Kau bahagia, kan?" Fa mengulangi pertanyaan itu. "Kau bahagia denganku, kan?
"Ya, kamu tahu itu." Jawabku. Aku tak mungkin bisa menyembunyikan perasaan di depan orang yang benar-benar mampu membuatku tenang.
Fa mengajakku bertualang ke langit. Tempat yang selama ini ingin kami diami berdua, hanya berdua. Aku mengingat tubuh yang kutinggalkan terbaring di ranjang dalam kamarku. Apakah tubuh itu masih tersenyum? Apakah masih ada darah di pergelangan tangan kirinya? Aku mengabaikan semuanya. Aku semakin jauh dari tubuhku dan itu membuatku bahagia karena tak perlu lagi menghindar dari ketakutan-ketakutan, dari rasa sepi.

Malam ini, aku dan Fa bersatu

Kalau aku tak mampu melampaui realita, setidaknya biarkan aku sembunyi dalam ilusi, ucapku sedikit berbisik pada Fa.
Fa terdiam. Bahkan ketika aku benar-benar memutuskan untuk meninggalkan selamanya tubuh yang terbaring di ranjang dalam kamarku. Fa sangat tahu, wanita yang ada di dekapannya saat ini sedang bahagia.



L Margi, lahir dan besar di Surabaya, mahasiswa pascasarjana Prodi Dikdas Universitas Negeri Surabaya

View Post